Hari Pertama Disambut Ledakan Bom

 Pengalaman Enam Mahasiswa FKIP UNEJ Mengajar Di Thailand Selatan

Jember, 23  Mei 2013
Tanggal 13 dan 14 Mei lalu, Universitas Jember menerima kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Thailand, Suwat Tantipat bersama rombongan. Selain diterima langsung oleh Rektor beserta jajaran pejabat di Kampus Tegalboto, tampak enam orang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember turut menyambut. Mereka adalah mahasiswa yang baru saja mengikuti Program Kuliah Kerja dan Praktek Pengalaman Lapangan (KKPPL) Di Thailand, tepatnya di kota Thanto Provinsi Yala di Thailand Selatan yang mayoritas penduduknya muslim.
“Kebetulan kami ditempatkan di Ma’had Ar Rasyidin atau nama Thailand-nya Suttisart Withya School dari tanggal 3 sampai dengan 26 April lalu,” ujar Rio Adhi Irwanto, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di sekolah setingkat SMP ini, Rio beserta kedua rekannya yakni Rizka Kurnia Ayu dan Yuzrizal Nofwani mengajar Bahasa Indonesia. Sementara Qadrina Laylin, Nila Puspita Sari dan Dwi Wirastuti mengajar Bahasa Inggris.
Praktek mengajar di daerah yang tengah dilanda konflik sempat membuat mereka ketar ketir. Bagaimana tidak, malam pertama mereka tiba di Thanto, sebuah bom meledak sekitar 100 meter tepat di depan asrama tempat mereka tinggal dan meminta korban tentara Thailand. “Malam itu kami harus mengungsi tidur di mesjid, beberapa kawan malah minta pulang ke Indonesia,” tutur Rizka sambil tertawa mengenang persitiwa itu.
Bahkan beberapa kali tentara Thailand bersenjata laras panjang mengawasi mereka saat praktik mengajar. “Saya sempat ditegur tentara Thailand karena merekam dengan kamera video kondisi di Thanto, untungnya mereka sopan. Mereka hanya bertanya mengenai identitas kami dan dalam kepentingan apa kami ke Thanto,” kata Yusrizal yang asli Kalisat ini. 
Tetapi kehangatan dan sambutan baik dari warga Thanto menghapus rasa khawatir dari hati para duta Kampus Tegalboto ini. Kesamaan agama, budaya, bahasa bahkan makanan membuat keenamnya seakan berada di tanah air. Dalam keseharian mereka berkomunikasi memakai Bahasa Melayu dengan sesama rekan pengajar dan siswa. “Di sekolah kami mengajarkan Bahasa Indonesia yang kalau di Thailand Selatan dikenal sebagai Bahasa Surat karena hanya dipakai untuk kepentingan resmi atau dalam buku teks saja,” tambah Qadrina.
Kegiatan mereka berenam praktik mengajar di Suttisart Withya School mendapatkan sambutan yang positif. Para mahasiswa FKIP ini diminta membuat kurikulum pengajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris oleh sang Kepala Sekolah, Tuan Mundzir Haji Wan Dauh Salaeh serta aktif turut serta dalam summer camp yang diadakan saat masa liburan. “Ada kurang lebih 150 siswa dari beberapa sekolah di tiga provinsi yakni Yala, Narathiwat dan Pattani yang ikut serta. Selain mengajarkan Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, kami juga mengenalkan budaya Indonesia,” imbuh Nila yang mahasiswi angkatan tahun 2009 ini.
Walaupun hidup di tengah masyarakat yang memiliki banyak kesamaan, ternyata banyak pengalaman menarik yang mereka rasakan. Misalnya ada perbedaan antara siswa di Indonesia dan di kota Thanto. Fasilitas yang ada di sekolah di Thailand Selatan umumnya lebih bagus dari sekolah kita, namun sistem pendidikannya masih terpusat pada guru. “Siswa siswi di Ma’had Ar Rasyidin cenderung malu untuk mengutarakan pendapat atau berekspresi. Mungkin juga karena pengaruh latar belakang kondisi politik di sana yang belum stabil,” kata Dwi Wirastuti.   
Pengalaman praktek mengajar di Thanto ternyata begitu membekas pada enam mahasiswa FKIP ini. Keakraban dan kehangatan masyarakat Thanto betul-betul mereka rasakan, tidak heran ajang perpisahan diwarnai tangis haru seakan berat melepas mereka. “Kami kerasan betul tinggal disana, bahkan berat badan kami semua pada naik. Jika saja ada kesempatan mengajar di Thanto saya tentu bersedia,” pungkas Yusrizal. (iim) 

1 komentar:

  1. Postinging matematika pak..
    jawaban semua soal kalkulus
    menang ngkokk..

    BalasHapus